Ketersediaan beras sebagai pangan pokok mayoritas masyarakat Indonesia menjadi fondasi utama ketahanan pangan nasional. Namun, menyempitnya lahan subur dan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menuntut adanya terobosan baru dalam pengembangan sawah. Salah satu solusi strategis adalah pemanfaatan lahan marginal, khususnya tanah Ultisol yang tersebar luas di Indonesia, terutama di Sumatera.
Sayangnya, tanah Ultisol memiliki berbagai kendala serius: bersifat masam, miskin unsur hara, kandungan bahan organik rendah, serta memiliki kadar besi (Fe) yang tinggi. Dalam kondisi tergenang, besi mudah tereduksi menjadi Fe+2 yang dapat meracuni tanaman padi, menghambat pertumbuhan, bahkan menyebabkan gagal panen. Tanpa pengelolaan yang tepat, potensi besar lahan ini sulit diwujudkan menjadi sumber produksi pangan yang berkelanjutan.
Buku ini menghadirkan pendekatan inovatif dan ramah lingkungan melalui teknik remediasi berbasis Azolla mycrophylla dan biochar sekam padi. Azolla, sebagai pupuk hayati yang mampu bersimbiosis dengan Anabaena dalam mengikat nitrogen dari udara, tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah tetapi juga berperan dalam menekan toksisitas besi. Sementara itu, biochar sekam padi berfungsi memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, menahan hara, serta membantu mengadsorpsi logam berlebih.
Melalui kajian teoritis dan hasil lapangan, buku ini menjelaskan dinamika besi pada tanah tergenang, mekanisme fitoremediasi, strategi pengelolaan air, hingga sinergi Azolla dan biochar dalam meningkatkan pertumbuhan serta produksi padi di lahan Ultisol. Pendekatan terpadu ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas, tetapi juga mengefisienkan penggunaan pupuk kimia dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Disusun secara sistematis dan komunikatif, buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi pertanian, serta pengambil kebijakan yang concern terhadap pengembangan lahan sawah baru dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Dengan inovasi berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan, buku ini menawarkan harapan baru: menjadikan lahan marginal sebagai penopang utama kemandirian pangan bangsa.