Dalam perjalanan sejarah, relasi antara seni dan agama kerap dipahami secara dikotomis. Tidak jarang seni diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Namun, dalam kerangka pemikiran Muhammadiyah, seni dan budaya justru dipandang sebagai bagian dari dakwah kultural yang dapat menjadi media dalam menyampaikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan. Seni tidak hanya dimaknai sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, pembentukan karakter, serta penanaman nilai-nilai spiritual dan moral.
Tari Bedhayan Gagrag Sumirat Puspito sebagai karya seni tari tidak hanya hadir sebagai pertunjukan artistik semata, tetapi juga me-ngandung makna filosofis yang berkaitan dengan nilai kehidupan, harmoni, keselarasan, ketuhanan, dan kemanusiaan. Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, seni tari ini memiliki potensi sebagai media pembelajaran nilai (value education), pendidikan karakter, sekaligus se-bagai sarana dakwah kultural yang mengintegrasikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan budaya lokal.
Buku ini membahas relasi antara kesenian, budaya, dan agama dari perspektif filsafat pendidikan, dengan menyoroti aspek ontologi, epis-temologi, dan aksiologi seni dalam pendidikan Muhammadiyah. Selain itu, buku ini juga menjelaskan bagaimana seni dapat berfungsi sebagai media dakwah kultural, sarana pendidikan karakter, serta penguatan identitas budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.