Surabaya pernah menjadi kota yang terluka, namun kini ia bangkit sebagai simbol toleransi. Di balik transformasi itu, ada peran besar para elit dakwah Muhammadiyah yang bekerja senyap namun berdampak luas. Buku ini mengajak pembaca menyelami bagaimana mereka menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama melalui dakwah yang mencerahkan rasional, humanis, dan penuh welas asih.
Disusun berdasarkan kajian yang mendalam, buku ini mengurai perjalanan Muhammadiyah dalam membangun dakwah moderat: mulai dari akar historis gerakan, prinsip washatiyah, strategi dakwah kontemporer, hingga tantangan radikalisme di era digital. Pembaca akan menemukan model internalisasi moderasi beragama yang tidak hanya teoritis, tetapi juga lahir dari praktik nyata di lapangan.
Melalui kisah-kisah inspiratif tentang kerukunan di Surabaya, buku ini menunjukkan bahwa harmoni bukan sesuatu yang utopis ia bisa diwujudkan ketika tokoh agama, masyarakat, dan negara bergandengan tangan. Membangun Moderasi Beragama adalah bacaan penting bagi akademisi, pegiat dakwah, pemimpin komunitas, maupun siapa pun yang ingin memahami dan merawat keberagaman Indonesia.