Kebijakan desa wisata, di satu sisi menjadi momentum bagi setiap desa untuk mampu menemukan potensi, digerakkan sebagai praktik keberdayaan dan pada akhirnya berkontribusi secara ekonomi bagi masyarakat. Sisi lainnya, kapitalisasi desa mulai bertumbuh seiring mulai menyeruaknya wisata sebagai simbol kapital. Hal tersebut adalah implikasi logis dari wisata, yang memang bergerak dalam basis rasionalisasi. Kondisi tersebut, berimplikasi pada perubahan ruang yang cenderung menjadi lebih bersifat material. Basis kesadaran manusia juga mulai bergerak menjadi kesadaran terberi. Dalam kesadaran terberi, sisi autentik manusia, yaitu human mulai tercerabut dari kesadaran dirinya. Hanya saja, masyarakat yang tumbuh dalam tradisi paguyuban masih mampu untuk “sadar” dan “menyadari” bahwa diri sebagai subjek terikat oleh “alam” sebagai “thing” yang mampu menghadirkan diri sebagai subjek yang menyadari. Penulis menyebut sebagai kesadaran refleksi.
PRAKATA v
DAFTAR ISI vii
BAB 1 Desa Bunga dan Perubahan Zaman 1
BAB 2 Manusia, Ruang, dan Kesadaran 19
BAB 3 Pedagang Bunga di Tengah Arus Kapital 57
A. Pasar Bunga sebagai Ruang Bertemu 57
B. Ekonomi yang Mengubah Cara Pandang 61
C. Ketika Wisata Membentuk Identitas Baru 65
BAB 4 Antara Hasrat dan Refleksi 77
A. Ketika Diri Mulai Menjadi Komoditas 81
B. Waktu Menyempit, Hidup Makin Cepat 88
C. Mencari Diri di Tengah Cermin Sosial 89
D. Ketika Ruang Menyatukan Relasi Sosial 92
BAB 5 Bunga, Manusia, dan Harapan Masa Depan 97
A. Dari Kehendak ke Kesadaran 97
B. Hidup dalam Arus yang Menentukan 107
C. Kesadaran yang Bertumbuh dari Kehidupan Sehari-hari 110
BAB 6 Merawat Kesadaran di Tengah Perubahan 115
DAFTAR PUSTAKA 117
GLOSARIUM 123
BIODATA PENULIS 125