Darah Guru darah Muhammadiyah

Rp 52.000,-
A. Malik Fadjar
Sosial & Populer
978-979-796-118-3
2009
296
Kedua
15 x 23
19

Sinopsis Buku

BUKU ini merupakan catatan sebagian perjalanan hidup  Prof Abdul Malik Fadjar MSc, mantan Rektor Universitas  Muhammadiyah Malang, mantan Menteri Agama, dan sekaligus mantan Menteri Pendidikan Nasional. Seorang intelektual yang pemikirannya-betapapun kecil barangkali-ikut mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Memberikan pengayaaan khazanah perkembangan masyarakat clan peradaban bangsa.
        Jelaslah buku ini bukan sebuah biografi, apalagi sebuah otobiografi. Maka, hal yang mencolok dan tegas dalam buku ini adalah metode penulisan yang dilakukan dengan “berjarak”. Artinya, penulis menyampaikan fakta yang ada di lapangan dari pelbagai sumber kemudian dicek dan ricek. Tidak harus sesuai yang dikehendaki obyek penulisan.
    Berbeda dengan biografi atau otobiografi yang ditulis “tanpa jarak”. Bahkan karena harus sesuai keinginan obyek penulis atau pesanan, lantas menjadi sangat subyektif, tidak perlu ada cek dan ricek. Sering timbul kesan, penulisan yang tidak berjarak demikian layaknya jeruk minum jeruk. Implikasinya, bobot obyektivitas dalam penulisan yang “ber    jarak”, insya Allah, jauh lebih besar daripada yang “tidak berjarak”.
    Ide penulisan bermula dari kesan yang mendalam penulis terhadap pemikiran-pemikiran Malik sejak tahun 1980-an. Malik yang saat itu masih menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Malang sudah    menelorkan pemikiran yang berani, orisinal, brilian, dan segar     yang disampaikan dalam seminar, diskusi, pengajian, dan forum     lain. Di kalangan komunitas intelek-tual, dia layaknya batu akik di antara gugusan batu kali.
    Penulis mengikuti kiprah dia membangun Universitas Muhammadiyah Malang. Malik memang tidak pernah sekali-kali    mengklaim bahwa UMM yang tumbuh dari sebuah universitas dhuafa, pinggiran yang dipelesetkan menjadi Universitas Morat     Marit, Universitas Maju Mundur, Universitas Murah Meriah, kemudian Universitas Memang Maju-menjadi Universitas    swasta terbesar di kawasan Indonesia Timur. Malik sadar hal itu bisa menyulut kesombongan. Namun, tidak bisa ditolak adanya penilaian masyarakat bahwa perkembangan UMM tak lepas dari kepemimpinan Malik. Tidak berlebihan kalau Malik dengan UMM menginstitusional layaknya emas dengan karatnya.
    Sosok Malik sebagai seorang intelektual tidak pernah luntur kendati sudah menjadi elite pejabat birokrasi. Ibaratnya, kalau berlian terbenam di lumpur tetap berlian. Keterlibatan penuh dia dalam mengantar Reformasi, termasuk menjadikan rumah dinasnya di Jalan Indramayu Nomor 14 Menteng, Jakarta, menjadi “Markas Reformasi”. Hal itu merupakan refleksi dari sosok intelektual dia.    
        Corak intelektualitas Malik tidak berhenti bermain di atas langit, berwacana, melainkan bagaimana pemikiran itu dicoba  dibumikan, diamalkan dalam kehidupan nyata. Maka, ketika    menjadi pejabat birokrasi tidak membuat dirinya kaku, kehilangan pemikiran yang visioner. Ia menjadi “intelektual-birokrat” yang mencoba menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata, atau “ilmu yang amaliah” dan “amal yang ilmiah”. Lebih khusus lagi, sebagai intelektual muslim dia mencoba memadukan fakir dan dzikir dalam praktik kehidupan sehari-hari.
               Maka, Malik menjadi birokrat yang tidak kering. Tidak kehilangan pemikiran visionernya. ‘tidak kaku dan jumud bin godal gadul layaknya naik komedi putar. Tidak terkungkung dalam protokoler birokrasi yang sering kah memasung kreativitas. Maka, ketika menjadi Mendiknas pun banyak kiprah kreatif-transformatif yang dilakukan.
    Semua itu mempertebal keyakinan penulis bahwa perjalanan hidup Malik memang pantas, dan perlu ditulis menjadi sebuah buku. Dengan harapan dapat menambah perbendaharaan sumber informasi, sumber inspirasi, dan kete    ladanan bagi generasi penerus bangsa. Mempelajari tokoh     pada dasarnya bukan dalam rangka mengagungkan semata, apalagi mengultuskan, melainkan untuk menjadikannya seba    gai sumber ilmu pengetahuan, sumber nilai, sumber inspirasi, sumber keteladanan.              
     Yang menjadi daya tarik pula adalah kehidupan Malik yang “sufistik” walau dia tidak menyebut dirinya sufi. Dia zuhud, sangat sederhana. Mengamalkan pola kehidupan yang qanaah, meneruna apa adanya dengan ikhlas ketentuan dan    kehendak Allah. la melakukan dzikir dengan intens walau     tidak tampak duduk sidikara berjam-jam di atas sajadah. Dzikir dalam pandangan dia adalah selalu ingat pada Allah     yang kemudian direfleksikan dalam sikap dan perilaku. Ada yang menyebut, Malik itu sosok “Sufi Muhammadiyah”.
    Pada pertengahan tahun 2003, dimulailah penulisan buku ini. Bahan-bahan dikumpulkan, baik dari literatur maupun nara sumber, di samping wawancara dengan Malik. Sejumlah kawan ikut membantu mengumpulkan bahan. Masalahnya adalah keterbatasan waktu Malik. Sebagai Mendiknas kemu    dian ditambah menjadi Menteri Ad Interim Koordinator Kesejahteraan Rakyat, benar-benar sangat sibuk. Apalagi ditambah situasi menjelang Pemilu Presiden 2004 di mana Malik sempat masuk bursa bakal calon Wakil Presiden mendampingi Megawati. Namun, akhirnya dengan telaten, sedikit demi sedikit wawancara dengan Malik berhasil dilakukan.

Daftar isi

Daftar Isi            v
Sekapur Sirih        vii
Sebuah Pengantar        xi

Bab 1  Pendahuluan        1
Bab 2  Warisan Sang Ayah        11
Bab 3  Guru, Mahasiswa dan Pergerakan        41
Bab 4  Membangun UMM        77
Bab 5  Mengantar Reformasi        131
Bab 6  Menjadi Menteri Agama        173
Bab 7  Menjadi Mendiknas dalam Kabinet Megawati        227

Daftar Kepustakaan        293
Tentang Penulis        295