Arema Never Die

Rp 67.600,-
Abdul Munthalib
Sosial & Populer
978-979-796-136-3
2009
231
Pertama
13,5 x 18
2

Sinopsis Buku

Ide penulisan buku ”Arema Never Die” ini sebenarnya tanpa sengaja. Yakni ketika saya tandang ke rumah pendiri Arema Ir. Lucky Adrianda Zainal di kawasan Dieng sekitar akhir tahun 2006. Kedatangan saya dalam rangka nyambangi Sam Ikul- sapaan Lucky- yang baru saja terkena gangguan di kedua matanya. Saat itu, kondisi mata Sam Ikul masih belum begitu parah. Karena sakitnya masih dalam hitungan beberapa bulan. Ia masih bisa melihat bayangan seseorang yang datang, termasuk saya.
Daya ingat dia terhadap siapapun yang pernah mengenalnya cukup kuat. Termasuk ia begitu lancar untuk menceritakan bagaimana sakit matanya itu terjadi. Ciri khas blak-blakan Sam Ikul masih kental. Belakangan sakit matanya kian parah, bahkan untuk melihat bayangan pun sudah tidak bisa. Tapi ia mengaku tidak begitu menyesal. Ia sadar bahwa semua yang terjadi atas kehendak yang di Atas (Allah). Apalagi segala upaya untuk melakukan proses penyembuhan sudah dilakukan. Namun hasilnya masih nihil. Ia pun akhirnya harus menjalani kehidupan kondisi tanpa bisa melihat itu dengan ikhlas. ”Beruntung saya masih diberi orang-orang yang begitu mencintai saya. Istri, anak-anak dan  banyak teman yang sangat masih mencintai saya,” kata Ikul saat itu.
Di tengah  perbicangan saya dengan Sam Ikul, ia cukup banyak bernostalgia bagaimana dirinya membanguan sebuah tim bernama Arema. Suka dan duka sejak ia ditantang papinya, Mayjend (pur) Acub Zainal untuk membentuk tim galatama di Malang. Hampir selama dua jam dia bercerita tentang proses awal bagaimana dirinya pontang-panting menggalang dana demi terbentuknya tim Arema.
Dari cerita Lucky itu ada banyak cerita ’berserakan’ yang cukup menarik untuk diketahui publik. Selama ini, khususnya saya kurang begitu paham bahwa Arema sejak awal itu ternyata didanani oleh pengusaha nasional Nirwan D Bakrie. Juga kiat bagaimana para pengurus pertama Arema membangun fondasi mental kepada seluruh pemain. Para pemain memiliki sense of belonging, rasa memiliki yang kuat kepada PS Arema. Padahal tidak semua pemain Arema berasal dari Malang. Bahkan  para pemain juga tidak mendapatkan gaji atau bayaran sebagaiamana di tim-tim pesaing Arema lainnya.
Nah, dari cerita Sam Ikul yang panjang lebar itu, saya terinspirasi untuk membukukan sejarah Arema tersebut. Saya utarakan niat itu langsung pada Sam Ikul. Dia pun sangat setuju waktu itu. Apalagi belum pernah sebelumnya ada  ’rekaman’ sejarah yang mengupas Arema secara utuh. Dia pun rela menyediakan waktu kepada saya selama beberapa hari untuk wawancara.
Dalam perjalanan cerita, ada banyak pihak yang harus dikonfirmasi terkait dengan sejarah tim berlogo kepala singa ini. Penulusuran pun saya lakukan selama hampir dua tahun untuk mendapatkan data dari para pelaku sejarah yang masih ada. Di antaranya kepada H.M Mislan, Soebekti, M. Basri, Didik Rusdianto, Gusnul Yakin, Iwan Budianto, Heryanto, serta beberapa pihak yang terlibat secara langsung dengan Arema. Termasuk saya juga memunguti sejarah dari berbagai sumber tertulis yang sudah ada yang sudah dikomparasikan dengan data wawancara.
Setelah hampir dua tahun saya merekam cerita, hadirlah buku yang Anda pegang ini. Sesuai dengan judul yang saya pilih ”Arema Never Die”, buku ini lebih banyak menyajikan bagaiamana jatuh bangun sebuah tim sepak bola yang tidak didanai pemerintah. Bagi saya Arema adalah tim yang tahan banting. Di saat tim-tim era galatama seperti Krama Yudha Tiga Berlian, Perkesa, BPD Jateng, Pelita Jaya, Arseto, Pardedetex sudah kolaps,  Arema masih ”segar bugar”.  Padahal dilihat dari pendanaan tim galatama, hanya Arema yang tidak memiliki sumber daya tetap. Sementara tim seperti Pelita Jaya, Arseto, Niac Mitra Surabaya, Asyabab Salim Grup Surabaya, Pardedetex dimiliki oleh pengusaha dengan kekuatan dana sangat besar. Pelita dimiliki dan dikendalikan sendiri oleh Nirwan Bakrie, pemilik PT Bakrie Brothers, Arseto milik Sigit Haryojudanto, putra mantan Presiden Soeharto, Niac Mitra dimiliki Alexander Wenas, pengusaha Subaraya, sedang ASGS milik perusahaan pengusaha raksasa Liem Sio Liong atau Salim.
Di tengah himpitan tim-tim besar itu, toh Arema  masih mampu bersaing saat di kompetisi galatama. Bahkan ketika ada penggabungan format kompetisi perserikatan dan galatama, Arema tetap mewarnai. Padahal mayoritas tim galatama berguguran. Ancaman kematian memang kerap mewarnai perjalanan Arema. Namun jalan keluar itu selalu ada untuk Arema. Jalan keluar itu di antaranya bergantinya pengelola dari Ir Lucky Adrianda Zainal ke PT Bentoel Prima hingga kini ke pengelola baru di bawah kendali Muhammad Nur, Mudjiono Mujito, dan Rendra Kresna.
Daya tahan Arema yang begitu kuat itu memang tidak lepas dari semangat yang telah dibangun para founding father berupa semangat mengangkat harkat dan martabat warga Malang melalui prestasi sepak bola. Semangat itulah yang sampai kini masih mengaliri darah seluruh warga Malang sehingga dalam kondisi apapun Arema masih tetap hidup. Arema Never Die.

Daftar isi

Kata Pengantar Direktur BLI  Joko Driyono        v Pengantar Penulis         vii
Daftar Isi         xi
Persembahan        xv

Tentang Acub Zainal        1
Bola dan Perfiki        4
Pakai Rok Saja        6
Sidang Belum Usai, Acub Pergi        8
Tujuh Anak        10
Bermula dari Persaingan Malang vs Surabaya         11
Proses Mencari Pemain        17
Berlatih ala Militer        19
Datangkan Tim Elit Eropa        20
Peran Nirwan D. Bakrie        21
Modal Rp 61 Juta dari Nirwan Bakrie        25
Arema Tak Penuhi Persyaratan        26
Lucky Tak Didukung Keluarga        29
Arungi Kompetisi Perdana        32
Prestasi Melorot, Sinyo Jadi Korban        35
Bambang Nurdiansyah Dongkrak Penonton        37     Arema Bangun Stadion Gajayan        39
Tim Hijrah ke Stadion Brantas        42
Debut Muhammad Basri        48
Debut Basri, Panen Sanksi         50
Basri Pergi di Tengah Jalan        54
Ebes Sugiono Jadi Pelatih        56
Hujan Tangis Iringi Basri        57
Minta Kompensasi Rp 45 Juta        59
Prestasi Puncak Datang Juga        61
Kera Putih Mencuri Pisang        67
Nyaris Mogok di LCA        68
Anti Klimaks, Nirwan  Putus Subsidi        70    Hadi Soeroto JugaMundur        73
Tunjuk Didik Rusdianto di Thailand        76
Cek Kosong Faisal Reza        82
H. M. Mislan Jadi Bapak Angkat        86
Terpaksa Usir Penumpang Pesawat        89
Mislan Justru Jadi Sasaran Cercaan        93
Diwarnai Mogok Latihan        96
Terima Gelang Emas Palsu        97
Mislan pun Menyerah        99
Terkesan Semangat Arek Malang        101
Tinton  Soeprapto Turun Gunung        104
Daftar Terlambat, Tulisan Tangan Lagi        106
Sambut Kompetisi V, Muncul Isu
Arema Tandingan        110
Transfer Putu Akan Diganti Bola        115
Hendrik Montolalu Dipecat di Atas Bus        118
Berani  Karena Hanya Tur Darat        120
Diwarnai Tragedi Jogjakarta        121
Arema Jadi Perhatian Nasional        123
Tur Tiga Pulau ‘Naik’ BMW        125
Tertahan di Hotel Papua        127
M. Basri Rela Dibayar Berapapun        129
Hampir Batal ke Senayan        132
Gagal Delapan Besar        135
Berhembus Isu Pertandingan Terbeli        137
Demo ke Balaikota        138
Sponsor Rp 1 M dari Kanzen        140
Iwan Janji Gaet Sponsor GG        141
Merancang Kupon berhadiah        144
Peran Besar KH Hasyim Muzadi        145
Bermula Pertemanan Geng Sexy Hongen        149
Galewar Mundur, Kanzen Hanya Semusim        150
Dukungan Seorang Habib        152
Jatuh ke Tangan PT Bentoel        156
Ditawarkan ke Nusakambangan        160
Badan Otorita Batam Berminat        162
Tuai Prestasi Terburuk        162
Dinasti Acub Zainal Berakhir        164
Tim Tetap Tak Terselamatkan        168
Henk Wulles pun Gagal        169
Rasakan Nikmatnya Juara        173
Dipermainkan Bejo Sugiantoro        174
Damai di Rumah Hasyim        176
Proses Juara yang Tak Mudah        178
Juara Setelah Tampil 118 Menit        180
Juara Copa I setelah Gagal di Ligina        183
Lemparan Telur Jadi Motivasi        184
Beri Bukti di Copa Dji Sam Soe I        186
Gagal LCA, Satrija pun Menangis        188
Kukuhkan Raja Copa II        193
Tempel Komitmen di Kain Putih        196
Sapu Empat Gelar di Copa        197
Gagal Total di Empat Even        201
Jabatan Manajer Dicopot        203
Numpang Lewat di LCA        205
Delapan Besar Tanpa Miroslav Janu        207
Tragedi Stadion Brawijaya        208
Ancaman Mogok Tanding        209
Program Jangka Panjang yang Berantakan        212
Tertekan, Bambang Nurdiansyah Mundur        214
Selamat dari Degradasi, Gagal di Copa        216
Kunci di Posisi 10        218
The Common Touch        220
Pengelola Baru, Harapan Baru        226
Komposisi Pelangi        227
Jaga Semangat Bwirawa Anoraga        233