Standar Editing Naskah Buku UMM PRESS

16 September 2013 | dibaca 6859

A. Penulisan huruf

1.    Penggunaan Huruf besar atau Huruf kapital

       Huruf besar atau huruf kapital dipergunakan untuk hal-hal berikut.

        a.   Pada awal kalimat dan huruf pertama petikan langsung.

       Contoh:

       Dia berasal dari daerah Surabaya timur.

 Ibu bertanya,”Kapan kamu kembali ke Surabaya ?”

         b.  Ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan, termasuk kata gantinya

               Contoh: Allah, Yang Mahakuasa, Islam, Kristen

  Walaupun berkaitan dengan ungkapan keagamaan, kata-kata  seperti nabi, rasul, sorga, neraka, kiamat, setan, malaikat, awal katanya tetap   ditulis huruf  kecil

         c.  Nama diri, huruf  awal gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang .

 Contoh: Amir Hamzah, Sultan Hasanudin,  Gubernur Sutiyoso, Raden Rahmad, Haji Hasanuddin

      Huruf besar tidak dipergunakan dalam penulisan huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang.

      Contoh:

              1)     Seorang gubernur harus memiliki misi dan visi yang kuat untuk   mengembangkan daerahnya.

              2)      Saudaramukah yang menjadi bupati Malang sekarang?

d.   Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa, tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah

  Contoh: bangsa Indonesia (bukan Bangsa Indonesia ), tahun Hijriah, hari Minggu, hari Kebangkitan Nasional.

          e.  Huruf pertama nama khas dalam geografi.

       Contoh: Danau Batur, Amerika Selatan, Jalan Jakarta.

f.    Huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

               Contoh: Departemen Pendidikan Nasional, Dewan Perwakilan

  Rakyat, Undang-Undang Ketegakerjaan.

Catatan: Huruf besar tidak dipergunakan dalam penulisan huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi yang tidak diikuti nama diri.

 Bandingkan contoh berikut:

              Masalah itu diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 5 tahun 2002:

 1)    Semua warga negara yang baik mestinya mengetahui semua peratur-an pemerintah yang berlaku.

 2)    Sehubungan dengan perubahan struktur kelembagaan, Rektor UMM mengeluarkan Surat Keputusan nomor 300 tanggal 23 April 2003.

 3)    Agar tertib dan teratur, semua surat keputusan sebaiknya dibendel tersendiri.

g.   Huruf pertama semua kata dalam buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan.

  Contoh: Di Bawah Lindungan Ka’bah, Pelajaran Matematika untuk Sekolah Lanjutan Atas.

       Huruf besar tidak dipergunakan sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

  Perhatikan contoh berikut:

 1)   Mengapa Saudara berpendapat demikian?

 2)   Saya telah menganggap keluarga Pak Joko sebagai keluarga sendiri

i.   Singkatan nama gelar dan sapaan; huruf pertama kata petunjuk hubungan ke-kerabatan yang di pakai sebagai kata ganti.

              Contoh: Dr. Satriyo, Kapan Saudara datang?

             Silakan diminum, Mbak!

2.    Penggunaan huruf miring (italic)

      Huruf miring (jika menggunakan mesin ketik diganti dengan garis bawah) di- gunakan untuk hal-hal berikut.

      a.  Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan

           Contoh: majalah Tempo, harian Kompas,

           Buku berjudul  Metodologi Penelitian   Ekonomi itu karangan W. Hidayat b. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata

           Contoh: Bagian ini sangat mudah dipelajari. 

           Huruf pertama kata abad ialah a.

     b.  Menuliskan istilah ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

          Contoh: Penataran merupakan kata lain dari upgrading.

3.   Penggunaan huruf tebal (Bold)

      Huruf tebal berfungsi untuk menandai kata-kata yang dianggap penting, seperti judul dan sub judul dalam tulisan.

B. Penulisan Kata

 1.  Kata Dasar

     Kata dasar adalah kata yang belum diberi imbuhan dan ditulis sebagai satu kesatuan.

     Contoh: Ibu akan pulang besok pagi.

 2.  Kata turunan/jadian

      a.   Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

            Contoh: bersambung, menyanyi, kawanan

b.  Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mendahului atau mengikutinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata.

           Contoh: bersuka ria, membabi buta, gabungan kata

c.  Kalau bentuk dasar berupa kata gabung dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata itu ditulis serangkai.

            Contoh: menggarisbawahi, mempertanggungjawabkan, mengedepankan, me-luluhlantakkan.

d. Kalau salah satu unsur kata hanya dipakai dalam kombinasi, maka gabungan kata itu ditulis serangkai .

            Contoh: antarkota, antikomunis, internasioanal, kontrarevolusi, mahasiswa, multi-lateral, prasangka.

3.  Kata ulang

     Bentuk kata ulang ditulis lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

     Contoh: sehat-sehat, terus-menerus, membesar-besarkan, berlari-lari, sebaik-baiknya.

4.  Gabungan kata

     a.  Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya ditulis terpisah.

          Contoh: sapu tangan, meja tulis, persegi panjang, rumah sakit umum.

     b.  Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara  

           unsur yang bersangutan.

          Contoh:  alat pandang-dengar, buku fisika-baru,  bapak–ibu

     c.  Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata ditulis serangkai.

           Contoh: apabila, barangkali, bilamana, tatabahasa, matahari, peribahasa.

5.  Penulisan kata ganti

      Kata ganti ku, kau, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahu-lui atau yang mengikutinya.

      Contoh:

       Apa yang ku bawa boleh kau pinjam.

       Temanku, temanmu, dan temannya berkumpul di sini.

6.   Penulisan kata depan

     Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam kata yang sudah dianggap sebagai satu kesatuan, seperti kepada dan daripada.

Contoh:

Kakaknya pergi ke luar kota

Buku itu di atas almari.

 Dia berasal dari Blitar.

7.  Penulisan kata sandang

     Kata sandang si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

      Contoh:

      Si pemilik kebun cengkeh itu sedang sakit.

      Sang kancil banyak akalnya.

8.   Penulisan Partikel

      a.  Partikel  lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

           Contoh:

           Apakah yang terdapat dalam tas itu ?

           Bacalah buku itu dengan cermat !

           Siapakah gerangan dia ?

      b.  Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pada ke-lompok kata yang sudah dianggap padu ( seperti adapun, bagaimanapun,

            maupun, biarpun, kalaupun, kendatipun, meskipun, sekalipun, walaupun, dan sungguhpun )

           Contoh:

           Jangankan dibentak, dipukul pun dia tak akan jera.

            Sepucuk surat pun tidak pernah sampai ke alamat ini.

       c.  Partikel per- yang berarti mula, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian-bagian yang mendampinginya.

            Contoh:

            Harga telur ini Rp 200,00 per-butir.

            Satu per satu mereka tinggalkan pertemuan itu.           

9.    Penulisan Angka dan Lambang Bilangan

      a.   Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di  dalam tulis-an lazim digunakan angka Arab dan angka Romawi. Pemakaiannya

            diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal berikut ini.

             Angka Arab :  0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.

       Angka Romawi : I, II, III.IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L ( 50 ), C ( 100 ), D ( 500) M ( 1000 )

b    Angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, dan isi , (2) satuan waktu, dan (3) nilai uang.

             Contoh:

            10 kilogram beras                        5 liter air

             3 meter kain                                 1 jam  15 menit                 

              pukul 12.30                                  tahun 1962                         

Rp 10.000,00

c.      Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan seperti berikut.

Contoh

11 sebelas                                      125 seratus dua puluh lima

3/ 4 tiga perempat                          1/20  seperduapuluh

d.      Penulisan kata bilangan  dengan huruf dilakukan dengan cara berikut

Contoh:

bab III atau bab ke-3 atau bab ketiga

abad XX atau abad ke-20 atau Abad kedua puluh

e.       Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an dilakukan dengan cara berikut

Contoh: tahun 50-an  atau tahun  lima puluhan

f.       Di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan perlu ditulis  dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks

Contoh:

Telah terima uang sebesar  Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)

C. Penggunaaan Tanda Baca

1.      Tanda Titik

Tanda titik dipakai dalam  hal-hal berikut.

a.      Mengakhiri kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Contoh: Kami  sekeluarga tinggal di Surabaya.

b.      Pada akhir singkatan nama orang

Contoh: A.A. Fadlowi

c.      Pada akhir singkatan  gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Contoh: M.B.A. (Master of Business Administration), M. Sc. (Master of    

Science), S.E. (Sarjana Ekonomi), Dr. (doktor), dr. (dokter).

d.     Pada singkatan kata yang sangat umum. Pada singkatan  yang terdiri atas tiga huruf atau lebih digunakan satu tanda titik.

Contoh: a.n. (atas nama), d.a. (dengan alamat), Yth. (yang terhormat), dsb. (dan

sebagainya),  tsb. (tersebut)

e.      Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar.

Contoh:

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

      1.2 Rumusan  Masalah

      1.3 Tujuan

f.       Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau yang  menunjukan jangka waktu.

Contoh : Pukul 11.20. 35 ( pukul 11 lewat 20 menit 35 detik )

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai hal-hal berikut.

1)      Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukan jumlah

Contoh: Ia lulus tahun 1989. 

            Periksa halaman 1341.

2)      Dalam singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya.

Contoh: AKABRI, SMA, Depdagri, Depdikbud.

3)      Singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang. Contoh: TNT (trinitrotoluena), cm (centimeter), kg (kilogram), Rp (rupiah),

l (liter).

4)      Pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, tabel, dan sebagai-nya.

Contoh: Salah Asuhan, Bentuk Hubungan.

5)      Di belakang alamat pengirim/penerima surat dan tanggal surat.

Contoh:

Yth. Saudara  Fitriana

                          Jalan Danau Toba D-14

                   Malang                                                                                                     

2. Tanda Koma

a.      Memisahkan unsur-unsur dalam suatu perincian.

Contoh:

Adik membutuhkan kertas, gunting, dan lem.

b.      Memisahkan kalimat setara yang didahului kata tetapi, melainkan, dan sebagainya.

Contoh:

Dia bukan adik saya, tetapi kakak saya.

c.      Memisahkan anak kalimat dan induk kalimat, jika anak kalimat mendahului            induk kalimat.

Contoh:

Karena sakit, dia tidak bisa datang.

d.     Di belakang kata seru.

Contoh:

Wah, bukan main !

Oh , begitu.

e.      Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

“Jangan sentuh barang itu", kata Farid.

f.       Antara nama dan alamat, bagian, bagian alamat, tempat dan tanggal, serta  nama tempat dan wilayah atau negri yang ditulis berurutan.                     

Contoh :

Barang ini dikirimkan kepada Penerbit UMM Press, Universitas Muhammadiyah Malang, Jalan Raya Tlogomas 246 Malang.

g.      Antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan marga atau nama keluarga.                  

Contoh: Endang Purnomo Wati, M.A.

h.      Untuk menyatakan angka desimal.

Contoh : 50,60 m, Rp 15,.50

i.        Untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.        

Contoh:

Tetangga saya, Pak Pristiono, baik sekali.

3. Tanda titik koma (;)

Tanda Titik Koma dipakai dalam hal berikut.

a.      Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Contoh:

Malam makin larut; pengunjung belum juga sepi.

b.      Memisahkan kalimat setara di dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata  penghubung.

Contoh :

Ayah memperbaiki kendaraan; ibu mempersiapkan perbekalan; dan adik mem-bersihkan halaman.

4. Tanda Titik Dua (:)

Tanda titik dua dipakai dalam hal-hal berikut.

a.      Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti perian.

Contoh:

Yang diperlukan saat ini adalah barang-barang perlengkapan yang meliputi: meja, kursi, dan alat tulis.

Pada kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

Ketua         :  Hendra Kuswara

Sekretaris   :  Henk Santoso

Bendahara:  Jumadi Achmad

b.      Dalam teks drama, sesudah kata yang menunjukan pelaku

Contoh:

Amiroh      : “Bawa buku itu kemari, Ton!”

Toni           : “Baik, Mbak. “

c.      Di antara jilid atau nomor buku/majalah dan halaman, antara bab dan ayat dalam kitab suci, atau antara judul dan anak judul suatu karangan.

Contoh:

Tempo, XII, 245 : 26

Surat Al Baqoroh: 17

Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Pengantar, sekarang ini sudah terbit.

5. Tanda Hubung (-)

Tanda hubung dipakai dalam hal-hal berikut

a.      Menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

Contoh:

… banyak hal-hal yang mena-

rik

… kurangnya kesadar-

an

b.      Menyambung unsur-unsur kata ulang.

Contoh: sambung-menyambung, bermain-main, kehitam-hitaman

c.      Menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu.

Contoh:

P-e-m-b-e-l-a-n-j-a-a-n

18-8-1945

d.     Merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang awali dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, singkatan huruf kapital dengan imbuhan.

Contoh: se-Jawa Timur, tahun 70-an, SIM-nya, sinar-X.

e.      Merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Contoh: pen-charter-an, di-tackle

f.       Memperjelas bagian-bagian ungkapan.

Contoh: Istri-perwira yang ramah dengan istri-perwira yang ramah.

6. Tanda Pisah (―)

Tanda pisah dipakai untuk hal-hal berikut: 

a.      Membatasi kata atau kelompok kata yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

Contoh:

Kemerdekaan bangsa itu saya yakin akan tercapai diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

b.      Menegaskan adanya aposisi atau keterangan dalam kalimat.

Contoh:

Rangkaian penemuan itu evolusi, teori kenisbian, dan kini pembelahan atom telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

c.      Di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan‘.

Contoh: 1945-1987, Surabaya Malang

7. Tanda Elipsi (…)

Tanda elipsis dipakai untuk hal-hal berikut:

a.      Menggambarkan kalimat yang terputus-putus.

Contoh:

Kalau demikian … ya, marilah kita pulang sekarang.

b.      Menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.

Contoh:

Sebab-sebab terjadinya … akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:

Tanda elipsis yang digunakan adalah titik tiga (…) bila di awal atau di tengah kali-mat, dan titik empat (….) bila di akhir kalimat.

8. Tanda Tanya (?)

Tanda Tanya dipakai untuk hal-hal berikut:.

a.      Mengakhiri kalimat tanya.

Contoh:

Dari mana Saudara mengetahui hal itu?

b.      Menyatakan adanya keraguan.

Contoh:

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1998 ?

9. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau pe-rintah, menggambarkan kesungguhan, ketidakpastian, atau rasa emosi yang kuat.

Contoh :

Singkirkan barang itu sekarang juga!

Alangkah kejinya perbuatan itu!

10. Tanda kurung (  )

Tanda kurung dipakai untuk hal-hal berikut:

a.      Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Contoh:

DIP (Daftar Isian Proyek) itu sedang dipelajari.

b.      Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral pokok pembicaraan.

 

Contoh:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud“ (nama suatu yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1963.

c.      Mengapit angka atau huruf yang merinci satu seri keterangan.

Contoh: :                                                                                                                      

Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (1) modal, (2) tenaga kerja, dan     (3) manajemen.

11. Tanda Petik ("…")

Tanda petik dipakai untuk hal-hal berikut:

a.      Mengapit petikan langsung dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lainnya.

Contoh:

“Sudah siap?“ tanya Amin.

b.      Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat.

Contoh:

Sajak “Perempuan Perkasa“ cukup menarik untuk dibaca.

c.      Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Contoh: Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “kaji tindak“.

12. Tanda Petik Tunggal ('…')

Tanda petik tunggal dipakai untuk hal-hal berikut:

a.      Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Contoh:

"Kau dengar bunyi 'kring-kring' itu?" tanya Amir.

b.      Mengapit terjemahan, penjelasan kata atau ungkapan asing.

Contoh: mastery learning ‘belajar tuntas’

13. Tanda Garis Miring (/)

Tanda garis miring dipakai untuk hal-hal berikut:

1)     Dalam penomoran kode surat.

Contoh: No.7/Q/1993

2)     Sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat.

Contoh: Harganya Rp 150,00/biji.

14. Tanda penyingkat atau apostrof (')

Tanda apostrof digunakan untuk menunjukan adanya penghilangan bagian kata.

Contoh: Ali ‘lah tiba. ( ‘lah = telah )

D. Penulisan Merujuk Kutipan, Daftar Pustaka dan Catatan Kaki

1. Penulisan Kutipan

   a. Perujukan Kutipan Langsung

    1). Kutipan Kurang dari 4 Baris

Kutipan yang tidak lebih dari empat baris atau di bawah 40 kata ditulis di antara tanda kutip sebagai bagian terpadu dari teks karangan. Adapun pengarang (yang diikuti tahun dan nomor halaman) dapat ditulis secara terpadu dengan teks atau ditempatkan di dalam tanda kurung.

        a) Nama pengarang disebut dalam teks secara terpadu.

Contoh:

            Tommy F. Awuy (Kompas 1 April 2001) mengomentari Supernovadari dua segi, yaitu pemikiran multidisipliner dan pembaruan.

  b) Nama pengarang disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman. Contoh:

          Jadi, novel Supernovadapat dilihat dari dua segi, yaitu pemikiran multi- disipliner dan pembaruan. (Tommy F. Awuy Kompas 1 April 2001).

 c) Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘…’).

Contoh:

Selanjutnya van Dijk (dalam Brown and Yule,1996: 246). berpendapat “skemata dikatakan sebagai struktur-struktur pengetahuan tingkat tinggi yang kompleks (dan bahkan konvensional atau tetap) yang berfungsi sebagai ‘pe-rancah ideasi’ (ideational)”

   2). Kutipan Lebih dari 4 Baris

Kutipan yang lebih dari empat baris atau 40 kata ke atas ditulis tanpa tanda kutip pada tempat khusus yang dipisahkan dari teks utama, dengan pinggir kiri-kanan yang berbeda, dengan spasi tunggal. Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan dan diketik spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.

Mengenai keadaan ini Ajip Rosidi (dalam Mulyana, 2000: 7) menegaskan bahwa:

Para pengajar dan sastrawan sudah lama terdengar mengeluh mengenai buruknya pembelajaran (bahasa dan sastra) kita baik di tingkat sekolah me-nengah maupun di perguruan tinggi. Kurikulum yang tak jelas arahnya dan pe-ngajar yang jumlahnya dan kemampuannya tidak memadai, bahan-bahan yang jauh dari lengkap semuanya menyebabkan pembelajaran sastra hanya se-ada-nya.

   3). Kutipan yang sebagian dihilangkan

Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik berspasi […]. Jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada akhir sebuah kalimat, maka ketiga titik berspasi itu ditambahkan sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu alinea atau lebih, maka biasanya dinyatakan dengan titik-titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Bila ada tanda kutip, maka titik-titik itu – baik pada awal kutipan maupun pada akhir kutipan – harus dimasukkan dalam tanda kutip sebab unsur yang dihilangkan itu dianggap sebagai bagian dari kutipan.

Jika dalam kutipan langsung terdapat kata-kata atau kalimat yang dibuang, maka kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga buah titik, dan kalimat dengan empat titik.

a) Penghilangan kata-kata

Tenaga-tenaga penjualan yang sukses, politisi, guru, dokter, dan pe-mimpin keagamaan semuanya cenderung orang yang mempunyai tingkat ke-cerdasan antarpribadi yang tinggi. Kecerdasan intrapribadi … adalah ke-mampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan me-ngacu pada ciri serta kemampuan untuk menggunakan model tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif. (Gardner dalam Coleman, 1994: 52)

b) Penghilangan kalimat

Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain…. Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar.” (Asim, 1995: 315)

b. Perujukan Kutipan Tidak Langsung

          Tanpa memperhitungkan jumlahnya, kutipan tidak langsung ditulis sebagai bagian terpadu dari teks karangan. Cara menulis sumber rujukan sama dengan penulisan kutipan langsung. 

1) Nama pengarang disebut terpadu dalam teks.

Contoh.

Gunawan (1995: 223) menyimpulkan bahwa perkembangan manusia lebih cepat di- bandingkan Simpanse ketika ia mampu berbicara.

2) Nama pengarang disebut dalam kurung bersama tahun penerbitannya.

Contoh:

Perkembangan manusia lebih cepat dibandingkan Simpanse ketika ia mampu ber-bicara (Gunawan, 1995: 223).

a, b, c, dan seterusnya yang urutannya ditentukan secara kronologis atau berdasarkan abjad judul buku-bukunya.

Contoh:

Tarigan, Henry Guntur. 1985a. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1985b. Pengajaran Kosa Kata. Bandung: Angkasa.

 

2. Penulisan Daftar Pustaka

 

      Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan daftar pustaka.

a. Daftar pustaka disusun secara berurutan menurut  urutan abjad.

b. Tidak perlu adanya nomor urut

c. Nama penulis dibalik dan dipisahkan dengan tanda koma (,)

d. Antara nama penulis, judul tulisan, dan tempat dalam daftar pustaka dipisahkan dengan tanda titik (.).  

e. Cara penulisan rujukan

    1) Rujukan dari buku

Tahun penerbitan ditulis setelah nama pengarang, diakhiri dengan titik. Judul buku ditulis dengan huruf miring, dengan huruf kapital pada setiap awal kata, kecuali kata hubung. Tempat penerbitan dan nama penerbit dipisahkan dengan titik dua (:). Contoh:

Andreas A. Danajaya. 1986. Sistem Nilai Manajer Indonesia. Jakarta: Pustaka binaman Presindo.  

Selden, Raman. 1989. Practicing Theory and Literature an Introduction. Tokyo: Harvester Wheatsheaf.

Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang  yang sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan diikuti oleh lam-bang a, b, c, dan seterusnya yang urutannya ditentukan secara kronologis atau berdasarkan abjad judul buku-bukunya.

Contoh:

Tarigan, Henry Guntur. 1985a. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1985b. Pengajaran Kosa Kata. Bandung: Angkasa.

2) Rujukan dari Buku Kumpulan Karangan

Cara menulis rujukan dari buku berisi kumpulan artikel yang ada editornya adalah seperti menulis rujukan dari buku ditambah dengan tulisan (Ed.) jika satu editor dan (Eds.) jika editornya lebih dari satu, di antara nama pengarang dan tahun penerbitan.

Contoh:

Brannen, Julia (Ed.). Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research. England: Avebury.

3) Rujukan dari Artikel dalam Buku Kumpulan Artikel (Ada Editornya)

Nama pengarang artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan. Judul artikel ditulis tegak (tidak miring) dan diberi tanda kutip. Nama editor ditulis seperti menulis nama biasa, diberi keterangan (Ed.) bila hanya satu editor dan (Eds.) bila lebih dari satu editor. Judul buku kumpulannya ditulis dengan huruf miring, dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.

Contoh:

Fananie, Zainuddin. 2000. “Perspektif Ideologis dalam Sastra Indonesia” dalam Soediro Satoto (Ed.) Sastra: Ideologi, Politik, dan Kekuasaan editor. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta Press (hal. 13-28)

Barthes, Roland. 1992. "Unsur-unsur Semiologi: Langue dan Parole" dalam Panuti Sujiman dan  van Zoest, (Eds.) Serba-serbi Semiotika. Jakarta; Gramedia, (hal. 80-88).

4) Rujukan dari Artikel dalam Jurnal

Nama penulis ditulis paling depan diikuti tahun dan judul artikel yang ditulis dengan huruf tegak dan huruf kapital pada tiap awal kata. Nama jurnal ditulis dengan huruf miring dan huruf awal dari setiap kata ditulis dengan huruf kapital kecuali kata hubung serta diberi tanda kutip. Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun ke berapa, nomor berapa, dan nomor halaman dari artikel tersebut.

Contoh:

Simpson, Paul. 1992. “Teching stylistics: analysing cohesion and narrative structure in a short story by Ernest Hemingway” dalam Jurnal Language and Literature. Vol I no. 1 1992.

Ley, R.G., & Bryden, M.P. (1979). Hemiapheric differences in processing emotions and faces. Brain and Language, 7, 127-138

5) Rujukan dari Artikel dalam Majalah atau Koran

Nama pengarang ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan dan tahun (jika ada). Judul artikel ditulis tegak diberi tanda kutip dan huruf kapital pada setiap huruf awal, kecuali kata hubung. Nama majalah ditulis dengan menggunakan huruf kecil dengan huruf kapital pada awal setiap kata dan dihuruf miring. Nomor halaman disebut pada bagian akhir.

Contoh:

Ismail, Taufik, “Menyembuhkan Bangsa yang Rabun Membaca”, Suara Muham-madiyah, No. 22/Th. Ke-87/16-30 November 2002. hal. 5-6

Alwasilah, Chaedar, “Meluruskan Pengajaran Sastra” Media Indonesia, 20 Juni 2001

         “Perlunya Meluruskan Pengajaran Sastra” Media Indonesia, 26 Juli 2001. hal 4

6) Rujukan dari Koran tanpa Penulis

Nama koran ditulis di bagian awal. Tahun, tanggal, dan bulan ditulis setelah nama koran, kemudian judul ditulis dengan huruf kapital dan kecil dan tanda kutip serta diikuti dengan nomor halaman.

Contoh:

Kompas, 3 April 2002. “Perubahan Strategi Ekonomi Indonesia”. Halaman 3

7) Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbitkan oleh Suatu Penerbit tanpa Pengarang dan tanpa Lembaga

Judul atau nama dokumen ditulis dibagian awal dengan huruf miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota penerbit dan nama penerbit.

Contoh:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: Diperbanyak oleh PT Armas Duta Jaya.

 

8) Rujukan dari Lembaga yang Ditulis atas Nama Lembaga tersebut

Nama lembaga penanggung jawab langsung ditulis paling depan, diikuti dengan tahun, judul karangan, nama tempat penerbitan, dan nama lembaga tertinggi yang bertanggung jawab atas penerbitan karangan tersebut.

Contoh:

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 1975. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi Kedua.

9) Rujukan dari Ensiklopedi

Dimulai dengan nama artikel, nama ensiklopedi, tahun, volume dan halaman. Contoh:

“Rhetoric”. Encyclopaedia Britanica. 1970. Vol. XIX. Hal.257-260.

 

10) Rujukan Berupa Karya Terjemahaman

Nama pengarang asli ditulis paling depan diikuti tahun penerbitan, judul terjemahan, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama tempat penerbitan dan nama penerbit terjemahan.

Luxemberg, Jan van. et.al. 1963. Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Wellek, Rene dan Austin Warren. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

11) Rujukan Berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi

Nama penyusun ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum pada sampul, judul skripsi, tesis atau disertasi ditulis dengan huruf miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau disertasi tidak diterbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi dan nama fakultas serta nama perguruan tinggi.

Contoh:

Hulquist, M. 1985. The Adverb just in American English usage. Master’s thesis, Applied linguistics, University of California, Los Angeles.

Wahyuningdyah, R.Y. 1996. Analisis Faktor-faktor Motivasi dan Hubungannya dengan Produktifitas Tenaga Kerja Akademik Kopertis Wilayah V.. Tesis tidak Diterbitkan. Yogjakarta. Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada.

12) Rujukan Berupa Makalah yang Disajikan dalam Seminar, Penataran, atau Lokakarya

Nama penulis ditulis paling depan, dilanjutkan dengan tahun. Judul makalah ditulis cetak tegak dengan diberi tanda kutip, kemudian diikuti pernyataan “makalah disajikan dalam …”, nama pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat penyeleng-garaan, serta tanggal.

Contoh:

Wahab, Abdul. 2002. “Komet Api Sakodam” Makalah yang disajikan dalam acara Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca yang diselenggarakan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang tanggal 2 September 2002

 

Pawley, A., and Syder F. (1976). “The One Clause a Time Hypothesis”. Makalah disampaikan pada Kongres Masyarakat Linguistik New Zealand Pertama, Auckland tanggal 5-7 Juni 1976

 

13) Rujukan dari Internet Berupa Karya Individual

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut tahun, judul karya (dihuruf miring), keterangan Online dan diakhiri dengan ala-mat sumber rujukan dengan keterangan Online di dalam kurung disertai dengan keterangan kapan diakses diantara tanda kurung.

Contoh:

Hermawan, C Sri Sutyoko “Pesona Sains dalam Fiksi” (Online)
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0103/11/seni/peso18.htm. (diakses 4 Maret 2002)

14) Rujukan dari Internet berupa Artikel dari Jurnal

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut tahun, judul artikel dengan tanda kutip, nama jurnal dengan huruf miring, volume dan nomor, keterangan Online dalam tanda kurung dan diakhiri dengan ala-mat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses di antara tanda kurung.

Contoh:

Miall, D.S. 1995. “Anticipating and Feeling in Literary Response a Neuropsy-chological Perspektive”. Poetics. 23, 275-298 (Online) http://www.hu.mtu.edu/ reader/online/20/allen20.html (diakses Oktober 2002)

15) Rujukan dari Internet berupa Bahan Diskusi

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut tanggal, bulan, tahun, topik bahan diskusi, nama bahan diskusi (dihuruf miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online) dan diakhiri dengan alamat e-mail sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:

Wilson, D. 20 November 1995. Summary of Citing Internet Sites. NETTRAIN Discussion List, (Online). (NETTRAIN@ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22 November 1995 )

16) Rujukan dari Internet berupa E-mail Pribadi

Nama pengirim jika ada dan disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti secara berturut-turut tanggal, bulan, tahun, topik isi bahan (dihuruf miring), keterangan Online dalam tanda kurung, nama yang dikirim disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).

Contoh:

Davis, A. (a.davis@uwts.edu.au). 10 Juni 1996. Learning to Use Web Authoring Tools. E-mail kepada Alison Hunter (huntera@usq.edu.au).

3. Penulisan Catatan Kaki

     Sistematika penulisan catatan kaki adalah sebagai berikut.

     Nama penulis (tidak dibalik), judul (Kota terbit: Penerbit, tahun), hlm.

     Contoh:

     Mochamad Aleq Sander, Atlas Berwarna Patologi Anatomi (Malang:UMM Press, 2005). Hlm.78.

E. Sistematika Penulisan

1. Penulisan Judul

     Semua judul, baik bab, subbab, maupun sub-subbab, diawali dengan huruf kapital, kecuali kata depan dan kata sambung. Penulisannya dengan menggunakan cetak tebal (bold).

     Contoh:

     Judul Buku             : Pengantar Mikro Ekonomi

     Judul Bab               : I. Teori Permintaan dan Penawaran

     Subbab                   : A. Teori Permintaan

     Sub-subbab             : 1. Fungsi Permintaan dan Garis Permintaan

2.      Penulisan Nomor

Untuk penomoran, UMM Pres mengunakan dua pola urutan sebagai berikut.   

1)   Judul Bab        :  I, II, III, IV, V, dst ( 16 times news roman)

      Subbab            :  A, B, C, D, E, dst (14 tnr)

      Sub-subbab     :  1, 2, 3, 4, 5, 6, dst (12 tnr)     

                                 a, b, c, d, e, f, dst

                                 1), 2), 3), 4), 5), dst

                                 a), b), c), d), e), dst

                                 (1), (2), (3), (4), (5), dst

          &